Scroll to top

Catatan Perjalanan seorang Dokter – Chapter SEKOLAH DOKTER

Disclaimer: Catatan berikut ini ditulis berdasarkan pengalaman hidup diri sendiri, no hoax. – drDono

Kedokteran merupakan salah satu bidang yang cukup banyak diminati (Setidaknya, pada zaman saya dulu) dengan melihat teman-teman yang ingin masuk ke bidang tersebut.  Berjuta alasan untuk masuk kesana: keinginan ortu (MAYORITAS?), prestige (sekolah dokter = orang pinter pasti keren gila), memperbaiki keadaan ekonomi (dulu kelihatannya sih oke, sekaranggg.. hmmm.. nanti cerita di lain segmen), ingin mendapat pekerjaan yang berkah (ntaps soul dah kalau ini), dan lain-lain .

Saya menjalani sekolah dokter umum di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya selama 6,5 tahun. Kurikulum saat itu terdiri dari masa perkuliahan, clerkship dan dokter muda. Saat berada di tahun kelima, saya melihat status teman-teman sekolah dulu di medsos yang masih happy happy dan mereka menulis : wooi rek, aku ketrimo kerjo nang X gajine lumayan cooy (Hei teman, saya diterima kerja di X dengan gaji lumayan). Saat itu, saya masih harus jaga seharian pergi pagi pulang malam keesokan harinya + kuliah + ujian + kadang dimarahin dan berpikir kok lama ya T_T. Namun, tetaplah kita harus positive thinking.. Semua akan indah pada waktunya.. Semoga.. Semoga.. Aamiin. Setahun lebih kemudian Alhamdulillah lulus juga. Setelah itu saya berpikir, saatnya menolong orang yang membutuhkan dan menghidupi keluarga.

Namun harapan ternyata belum sesuai kenyataan. Bila mengadu nasib di kota besar, ternyata sangat banyak rencana yang tidak dapat terpenuhi dan pilihan lain adalah pergi ke tempat lain  (keluar pulau). Tetapi di satu sisi kepikiran tentang keluarga bila harus mengambil pilihan ini. Untuk diketahui, beberapa rekan-rekan saya ada yang mengabdi (PTT) hingga ke ujung timur-ujung barat Indonesia dengan mengorbankan banyak hal, seperti keluarga atau kesehatan dia sendiri. Sedih loh saya kalau lihat komentar dokter itu ga bole mikir uang, kerja sosial aja rejeki ada yang ngatur (Ya memang benar, tapi kan kami juga harus merencanakan masa depan otomatis finansial tersebut harus sedikit dipikirkan – jadi istilahnya bukan mikir uang, tapi mikir hidup.. kan harus berusaha, berdoa dan tawakkal.. bukan berdoa dan tawakkal aja =D ). Mohon maaf sebelumnyaa, tapi jangan menyamakan semua dokter kaya makmur sukses, masih banyak yang harus berjuang seperti rekan kami tadi hanya untuk hidup.

Setelah sekitar satu tahun bekerja di suatu tempat, Alhamdulillah saya diterima sekolah (lagi) di pendidikan dokter spesialis dan saya tempuh selama sekitar 5 tahun. Disinilah banyak sekali revolusi dalam dunia kedokteran dan salah tiganya adalah BPJS, UU Pradik daaan Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) yang tiba-tiba diharuskan kerja oleh pemerintah tanpa perjanjian sebelumnya (nasib T__T padahal sudah rencana bermacam-macam. tetapi life must go on – cerita tentang itu di lain segmen).

Akhirnya disinilah saya berada: Pulau Saparua, Maluku Tengah, Provinsi Maluku, berdasarkan surat keputusan oleh lembaga kesehatan negara untuk menjalani WKDS. Salah satu provinsi dan pulau yang belum pernah saya kunjungi dengan berbagai problem kesehatan di dalamnya. Masalah yang ada di Indonesia ini merupakan tanggung jawab kita bersama dan juga merupakan kewajiban kita dengan keahlian yang dimiliki untuk mengatasinya. Bukan hanya pemerintah aja.  So, ask not what your country can do for you, but ask what you can do for your country (JFK, entah taun berapa).

Chapter Sekolah Dokter

Related posts

Post a Comment